GEMPA BUMI PUN ADA MUSIMNYA

Layaknya dunia fauna yang punya istilah “musim kawin”, ternyata gempa bumi juga ada musimnya, seperti di pegunungan Himalaya yang “rajin” disambangi gempa selama musim dingin.
Selama beberapa tahun lamanya, para ahli gempa bumi mencermati bahwa gempa bumi tektonik akibat pergeseran lempeng di pegunungan Asia lebih kerap terjadi di musim dingin daripada musim panas, tapi mereka belum dapat memastikan alasan terjadinya fenomena itu.
Baru sekarang, setelah penelitian menggunakan teknologi GPS dan data satelit didapati bahwa aktifitas gempa tektonik ada kaitannya dengan angin musim yang “menyirami” kawasan itu setiap musim panas.
Pegunungan Himalaya adalah kawasan yang rentan dilanda gempa bumi karena tekanan yang ditimbulkan oleh lempeng India dan Eurasia, seiring dengan pergeseran Benua India yang terus merasuk ke Benua Asia.
Peneliti bernama Philippe Avouac dari Caltech dan rekan-rekannya menganalisis sebanyak 10.000 rangkaian gempa di Himalaya dan ternyata jumlah gempa pada musim dingin (Desember hingga Februari) dua kali lebih banyak daripada gempa yang terjadi pada musim panas.
Sebagai contoh, gempa berkekuatan tiga skala richter selama musim dingin bisa terjadi 150 kali per bulan. Sementara pada musim panas jumlahnya cuma 75 kali dalam satu bulan.
Sementara gempa yang kekuatannya empat skala richter, rata-rata terjadi 16 kali per bulan di musim dingin, sedangkan selama musim panas gempa hanya terjadi empat kali sebulan.
Menurut Avouac, seperti dikutip dari laman www.lifescience.com, gempa yang kekuatannya lebih besar juga mengikuti pola yang sama dengan pola tadi.
Sementara itu berdasarkan pemantauan citra satelit terlihat bahwa ketinggian air di anak-anak Sungai Gangga berubah secara drastis mengikuti perubahan musim.
Air naik empat meter pada awal musim angin muson di pertengahan Mei, lalu mencapai titik maksimal pada bulan September, dan menurun hingga musim angin muson berikutnya datang.
Ketika angin muson membuat air di anak-anak Sungai Gangga berangsur naik, muson juga menambah tekanan ke kawasan tersebut.
Lalu saat hujan berhenti turun dan simpanan air di sungai pun merangsek ke dalam tanah, beban lempeng pun dengan mudah keluar menghadapi Pegunungan Himalaya.
Penglepasan beban ini kemudian memicu pemampatan horizontal rangkaian gunung dalam tahun itu, hingga puncak munculnya gempa bumi selama musim dingin.

Rabu, 2008 Januari 09

Guru Stress Menyuruh Murid Mengisi Biodata

Seorang Ibu Guru Sekolah Dasar membagikan Daftar Isian murid-murid, mengenai data-data murid itu sendiri dan kedua orangtuanya.

Ada seorang muridnya yang karena gobloknya atau karena ingin “mengerjai” Gurunya, selalu bertanya-tanya:

Murid: “Bu, nama orangtua ditulis, ya?”

Guru: “Ya, ditulis.”

Tidak lama kemudian, murid tersebut bertanya lagi…

“Bu, alamat orangtua ditulis?”

Jawab Gurunya mulai kesal…

“Ya, ditulis!” katanya.

Belum tiga menit si murid bertanya lagi…

“Bu, jenis kelamin orangtua ditulis?”

Jawab Ibu Guru itu, yang kekesalannya telah sampai ke ubun-ubun…

“Nggak!! Digambar!!!”

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!